Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja. Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir. (Pepatah Bugis)

Halaman Depan > Komunitas Ininnawa > Bermain, Belajar dan Berpetualang di YC07

Bermain, Belajar dan Berpetualang di YC07

Senin 5 Maret 2007, oleh admin

Sejarah

Para mulanya banyak yang salah kaprah dengan nama Youth Camp. Banyak yang mengira Youth Camp adalah kegiatan perkemahan atau pertukaran pemuda ke luar negeri. Di Rumah KaMu, Youth Camp adalah sebuah program tahunan berupa pendidikan alternatif dalam bentuk penelitian lapangan. Youth Camp selalu diadakan di desa yang setiap tahunnya akan berpindah lokasi. Ide awalnya adalah menjawab kegelisahan beberapa pihak yang prihatin dengan dunia pendidikan formal. Saat ini sekolah dinilai tidak memberi ruang memadai untuk mengembangkan kesadaran kritis sosial remaja serta alternatif kegiatan yang dapat membantu mereka mengenal diri sendiri dan sekitarnya. Berdasarkan pengalaman kami pribadi, setiap hari siswa dijejali dengan berbagai mata pelajaran yang menekankan pada hapalan dengan pekerjaan rumah dan tugas sekolah yang menumpuk.

Tak jarang siswa sendiri kewalahan mengikuti pelajaran tertentu yang sebenarnya tak terlalu diminatinya. Para siswa bahkan menambah waktu beberapa jam lagi untuk mengikuti les tambahan, agar bisa memenuhi standar nilai kelulusan yang ditetapkan sekolah. Sebagian waktu terkuras untuk mengetahui rumus-rumus tertentu atau menghapal jenis-jenis tumbuhan berikut nama-nama latinnya. Kegiatan sekolah yang demikian padat ini kemudian melahirkan pertanyaan: pernahkah mereka bersentuhan langsung dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat? Apakah mereka menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya? Apakah siswa tahu setiap butir nasi yang dimakannya adalah hasil cucuran keringat petani yang belum tentu bisa menyekolahkan anaknya karena harga beras dan hasil panen lainnya yang dipatok sangat rendah? Apakah mereka tahu berapa banyak proses yang mesti dilalui sampai makanannya bisa terhidang di meja makan? Apakah mereka juga pernah melihat sendiri jenis tanaman, yang nama latinnya mesti dihapalkan setiap hari itu?

Kekhawatiran bahwa siswa hanya menganggap sekolah yang terdiri dari ruang, bangku dan buku-buku sebagai satu-satunya tempat belajar membuat beberapa orang pemerhati kaum muda dan pendidikan di Rumah KaMu lalu sepakat untuk mengadakan kegiatan bagi siswa. Kami ingin memperkenalkan konsep-konsep pembelajaran seperti pembelajaran mandiri, belajar dari masyarakat dan metode partisipatif. Lalu mengapa mesti jauh-jauh ke desa untuk belajar? Ini pertanyaan yang cukup sering diajukan. Jawabnya mudah saja. Di desa, semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah. Sekolah sendiri dalam bahasa Latin (skhole, scola, scolae atau schola) secara harfiah berarti ‘waktu luang’ atau ‘waktu senggang’. Keempatnya punya arti sama yaitu waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar. Biasanya orang Yunani jaman dahulu mengisi waktu senggangnya dengan mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang mereka anggap pandai dalam hal-hal tertentu untuk mempelajari dan menanyakan apa saja yang mereka rasa perlu dan butuh untuk mereka ketahui.

Youth Camp

Youth Camp pertama diadakan pada tahun 2003 bertempat di Dusun Marana, Sinjai. Youth Camp kedua tahun berikutnya di Desa Pao, Gowa. Youth Camp 2005 mengambil lokasi di Desa Mosso, Polmas. Ditahun 2006 kembali bertempat di Sinjai namun di desa yang berbeda yakni di Tompobulu. Tahun ini Youth Camp telah dilaksanakan di Desa Jenetallasa, Kabupaten Jeneponto pada tanggal 6-17 Januari, yang letaknya kurang lebih 50 kilometer ke arah selatan Makassar. Di desa ini para siswa tinggal dan belajar bersama para petani yang umumnya bertanam sayuran selain mengelola sawah. Untuk tahun ini pesertanya sebanyak 21 siswa dari 18 SMA atau yang sederajat, yang berasal dari 8 kotamadya dan kabupaten.

Pihak Rumah KaMu mengharapkan peserta bisa tanggap terhadap perubahan yang terjadi dan tergerak untuk melakukan pengenalan terhadap diri sendiri dan sekaligus tergerak mengadakan perubahan sosial jika kelak terjun ke masyarakat. Oleh karenanya mereka diajak sebanyak mungkin bersentuhan dengan kenyataan di masyarakat dan menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya. Konsep Community Development yang diperkenalkan dalam Youth Camp diharapkan akan membawa kesadaran baru bagi siswa. Youth Camp sendiri terdiri dari tiga tahap yaitu orientasi program dimana peserta diperkenalkan dengan teknik-teknik dan isu-isu penelitian. Mereka juga diajarkan mengenai metode penelitian sosial dan teknik-teknik dalam melakukan wawancara dan pengamatan lapangan. Tahap berikutnya adalah homestay atau tinggal di rumah penduduk. Tahapan ini dianggap paling penting karena di sinilah peserta diajak membaur bersama masyarakat dan belajar langsung dari mereka sebagai guru alam.

Selama di desa mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok penelitian sesuai minat masing-masing dan hasil pengamatan pada saat tiba di desa serta didampingi oleh dua orang fasilitator. Banyak kejadian lucu dan mengharukan yang dialami selama di desa. Tak jarang peserta masih terpaku pada bahasa pakem dan formal untuk melakukan wawancara dengan masyarakat. Suatu ketika seorang fasilitator dibuat tergelak oleh pertanyaan; “ Apa harapan yang anda harapkan di masa mendatang? “ yang diajukan oleh peserta kepada seorang petani cilik berusia 9 tahun. Anak kecil itu langsung terlihat kebingungan dan tak mengerti. Ada juga kejadian di mana sebuah kelompok kesulitan menentukan arah penelitiannya dan kekurangan data. Sejumlah fasilitator yang mendampingi para siswa memperkenalkan model pendampingan yang memberi kebebasan. Fasilitator misalnya membagi tips tentang cara mewawancarai agar responden tak terganggu dan nyaman memberikan jawabannya, atau membantu peserta memetakan alur penelitiannya. Namun para fasilitator tidak bertindak sebagai seorang guru pemegang kuasa. Sebaliknya, mereka membiarkan peserta mengambil keputusan tanpa campur tangan berlebih, seingga para siswa belajar mandiri.

Membuka Mata

Selama pelaksanaan Youth Camp, para siswa mengungkapkan berbagai kesan dan komentar yang kadang mengejutkan. Misalnya, siswa yang tinggal di perkotaan cenderung menganggap masyarakat desa sebagai orang yang bodoh karena banyak yang tak sampai lulus sekolah dasar. Ada juga yang menganggap bahwa petani itu identik dengan segala hal yang kotor, karena lebih banyak di sawah. Ikbal Manjuliri, siswa SMA Nasional Makassar, misalnya, mengatakan bahwa kesannya tentang kehidupan desa dan para petani berubah setelah tinggal bersama dengan masyarakat desa. “Awalnya juga saya pikir bahwa Youth Camp ini adalah kegiatan naik gunung atau pencinta alam, tapi ternyata adalah kegiatan belajar di desa.” Setelah lebih dari sepekan para peserta menghabiskan waktu bersama-sama di lahan pertanian, belajar bercocok tanam, menelusuri sistem pengairan alami yang dibuat penduduk, menjelajahi kebun, sawah dan ladang, mereka merasakan kekerabatan yang kental. Keseharian penduduk desa yang bersahaja membuat peserta berbalik menjadi kagum dan sangat menghargai kesederhanaan masyarakat yang tampak begitu bahagia dan menikmati hidupnya. Anak-anak bermain dan belajar dari alam. Sawah dan ladang adalah sekolahnya, dan para petani adalah gurunya. Ini dinyatakan dalam jurnal peserta yang ditulis setiap hari sebagai bahan untuk refleksi mereka.

Ada suatu kisah menarik ketika sebuah kelompok penelitian mewawancarai seorang petani mengenai peranan pemerintah dalam bidang pertanian di desa tersebut. Oleh petani dijawab dengan “penyuluhan“. Lalu ketika ditanya seberapa seringnya penyuluh itu datang ke desa dijawab dengan “sangat jarang“. Sewaktu peserta bertanya lagi mengapa penyuluh itu jarang datang, sambil tersenyum lebar petani itu menjawab, “Soalnya petugas penyuluhnya tidak percaya diri. Mereka hanya tahu teorinya saja, beda dengan kami yang belajar dari pengalaman.“. Sebuah pengalaman yang berharga bagi peserta dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat desa karena jarang orang mau jauh-jauh datang dari kota untuk belajar dari mereka dan menanyakan hal-hal sederhana yang bahkan sudah tidak lagi diperhatikan oleh warga setempat.

Keakraban yang telah tercipta di antara peserta dan masyarakat membuat keharuan yang mendalam ketika mereka mesti meninggalkan desa untuk melakukan penulisan laporan di kota sebagai tahapan akhir dari Youth Camp. Pada tahap penulisan laporan, anggota kelompok penelitian dibagi ke dalam beberapa kelompok penulisan. Kesulitan yang dialami peserta sebagian besar karena mereka hanya terbiasa dengan hapalan di sekolahnya. Tantangan terbesar bagi para siswa adalah bagaimana mengumpulkan data, menganalisanya, menyusun, membuat abstrak tulisan, kemudian menuliskannya secara sistematis. Setelah Youth Camp berakhir, kami selalu menyimpan harapan bahwa para peserta tetap mengembangkan keinginan menumbuhkan kesadaran sosial, mengembangkan keingintahuan, daya kritis dan analisa. Semua inilah yang kelak menjadi bekal mereka menjadi manusia yang berkarakter, bukan sekadar menjadi pelajar yang menghapal teori dan mengejar nilai tertinggi di sekolah, tanpa peduli pada sekitar. Dan meskipun Youth Camp telah berakhir, akan tetapi sebuah babak baru telah menanti mereka. Sebuah kehidupan baru dimana sekolah saja tidak pernah cukup !!!