Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja. Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir. (Pepatah Bugis)

Halaman Depan > Komunitas Ininnawa > Mengupas Sejarah Maritim Sulsel

Mengupas Sejarah Maritim Sulsel

Kamis 8 Maret 2007, oleh admin

MUNGKIN tidak banyak buku yang mengulas tentang komunitas maritim di Sulawesi Selatan. Dari yang tidak banyak itu, salah satunya adalah Jagad Maritim, yang ditulis oleh Darmawan Salman.

Judul: Jagad Maritim
Penulis: Darmawan Salman
Tebal: xvi, 319 halaman
Cetakan pertama: Agustus 2006

Dalam buku ini dijelaskan, ada tiga komunitas maritim di Sulawesi Selatan, yaitu pembuat perahu, penangkap ikan, dan penghuni pantai wisata. Mereka memulai ’hidupnya’ dengan tatanan pra-kapitalis, sederhana dalam struktur, dan tidak rasional secara kultur. Buku ini begitu detail menjelaskan sejarah maritim di Sulsel. Pada periode 1900-an sampai 1970-an, investasi untuk pengembangan teknologi dan sumber daya manusia belum dipentingkan dalam pembuatan perahu. Pembuatan perahu berlangsung sesuai kebiasaan kerja dan penggunaan alat secara turun temurun.

Di buku ini juga dijelaskan tentang wisata pantai. Potensi pantai Bira sebagai tempat rekreasi, misalnya, telah diketahui wisatawan asing sejak 1960-an. Ketika itu, sepasang suami-istri dari Belanda tinggal selama dua bulan di sana. Bahkan pernah ada kapal pesiar berlabuh dan mendatangi gua Leang Tataria di Bira Keke (pantai Timur Bira). Saat itu, dalam kawasan hutan berbatu di Bira terkenal lantaran kawasan rusa yang merupakan sasaran perburuan selain ke puncak Pua’ Janggo. Buku Jagad Maritim ini juga mengupas tentang komunitas penangkap ikan di Tanah Jaya. Sebelum pertengahan 1970-an, investasi dalam industri penangkapan ikan di Tanah Jaya masih terbatas. Teknologi tangkap masih sederhana, perahu tangkap belum bermesin, dan area tangkap terbatas pada laut dangkal, sehingga produksi rendah dan menyulitkan untuk berinvestasi.

Alat tangkap saat itu adalah pancing, jala, jaring sederhana, dan bubu. Perahu yang digunakan adalah jenis sampan, perahu bercadik, atau perahu berlayar sederhana yang dikenal sebagai ’lopi pajala’. Perlengkapan dan alat tangkap dioperasikan secara individual. Fasilitas pendukung seperti pelabuhan ikan pun belum ada ketika itu. Namun kemudian dipaparkan juga, bagaimana serbuan investasi, teknologi, dan manajemen mendorong perubahan di tiga komunitas ini. Bagaimana kemudian dua proses modernisasi utama — diferensiasi sosial pada aras struktural dan rasionalisasi tindakan pada poros kultural—ikut bergerak.

Di lain sisi, ikatan partol-klien yang kuat, manifestasi siri’, gelar haji, dan status sosial, telah menjadi sumber motivasi pencapaian warganya, terutama di komunitas pembuatan perahu dan penangkap ikan. Tetapi tidak semua aktor bisa tiba ke lapisan yang setaraf, dengan demikian pengaruh dorongan tiga motif itu tidaklah sama.

Dengan penjelasan yang begitu detail, buku Jagad Maritim ini lalu menjelma penting sebagai panduan dan peta mutakhir memasuki jagad maritim masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya orang Makassar. (yon)

Resensi ini juga bisa dibaca di sini.