Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja. Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir. (Pepatah Bugis)

Halaman Depan > Komunitas Ininnawa > Kisah yang Mengalir

Kisah yang Mengalir

Kamis 8 Maret 2007, oleh admin

JUDUL buku ini diambil dari salah satu cerpen yang terkumpul. Ketika mulai membaca buku ini ada beberapa perkiraan dalam benak saya. Pertama, mengenai penempatan judul yang menggunakan 2 baris : Perempuan yang Mencintai di baris pertama dan Still Got The Blues di baris kedua. Saya mengira judul ini terdiri dari judul utama dan anak judul. Tapi setelah membaca isi cerita yang berada di urutan ke-11 baru saya mengerti apa yang dimaksud oleh judul ini.

Judul Buku: Perempuan yang Mencintai Still Got The Blues
Penulis: Rahmat Hidayat
Penerbit: Ininnawa & Identitas
Cetakan Pertama: Juni 2005

Tokoh utama dalam cerita Perempuan yang Mencintai Still Got The Blues adalah seorang laki-laki penyiar radio yang menerima permintaan lagu Still Got The Blues dari seorang perempuan di salah satu acara yang dibawakannya. Lagu ini dipersembahkan kepada orang yang sama dari hari ke hari hingga beberapa bulan. Juga dengan ucapan sama yang kadang diakhiri dengan isakan.

Perkiraan kedua adalah urutan dalam penampilan kisah-kisah yang ada. Tak ada keteraturan urutan tahun penulisan cerita. 20 cerita dalam buku ini, ditulis sejak tahun 1999 hingga 2005. Sempat tercatat bahwa penulis tidak mengikutsertakan karya-karya di tahun 2002-2003. Mungkin sedang vakum.

Ataupun perkiraan saya akan adanya sebuah tema khusus dari kumpulan cerita pendek ini. Perkiraan saya, lagi-lagi, salah. Tak ada 1 tema. Bukan hanya tema cinta yang diangkat, tapi ada beberapa tema lain. Namun justru hal ini memperlihatkan kebisaan Rahmat dalam bercerita.

Diawali dengan sebuah kisah tokoh Ayah yang single parent kemudian tokoh laki-laki yang mengenal dunia ‘dewasa’ dari seorang pelacur, berlanjut adanya tokoh wanita-seorang istri yang benci kucing milik ibu mertua, bahkan tokoh yang ada menjelma menjadi seorang Lara Croft, tokoh gem (tulisan: game) yang berontak.

Saya belum pernah membaca karya Rahmat sebelumnya, namun dari buku ini saya berani menyimpulkan bahwa ia pintar dalam berkisah dan menyelesaikan akhir dengan menarik. Menarik, dalam artian, kadang saya masih harus berpikir keras apa maksud dari cerita yang baru saya baca.

Seperti pada kisah Di Tepi Sungai, Suatu Sore. Di halaman terakhir (55), ucapan hati tokoh perempuan dalam mimpinya : “Kenapa mereka melengos saat berpapasan mata dan tak menyalaminya saat datang ke lamming? Mereka hanya menyalami pengantin pria.” Dari kalimat ini tidak sepenuhnya menjelaskan dengan gamblang, ada apa dengan si pengantin perempuan? Penceritaan di halaman sebelumnya sama sekali tidak menjelaskan. Pun kata-kata yang mengalir sesudahnya. Atau kisah Saya Halimah dari Pidie. Di halaman 99, “Saya Halimah dari Pidie. Saya ditahan berhari-hari oleh tentara...” Nama Halimah dari Pidie adalah nama tokoh yang sama yang bercerita di halaman sebelumnya. Tapi melihat kata-kata selanjutnya, tampak kalau bagian itu tidak sejalan. Terlebih di halaman 100 yang ditutup dengan, “Di ujung barat negeri itu, di tepi sebuah liang raksasa, seorang Halimah lain terjungkal oleh peluru yang menembus kepalanya.”

Perlu pengulangan baca untuk menguak arti dari kalimat yang ada. Namun, ada juga kisah dengan tema yang ringan dalam buku ini. Visidi adalah salah satu contoh mudah. Bacalah judul seperti apa adanya, seperti itulah dialog-dialog yang ada. Apa adanya. Tentang suami yang mempunyai istri yang sedang hamil besar, memajukan (mengatasnamakan) keinginan si sulung untuk mempunyai visidi (tulisan: VCD) kepada sang suami. “Istriku tak rela anaknya disepelekan orang, seolah-olah ia tak bisa membelikan anaknya sesuatu yang dimiliki oleh anak orang lain dan diingini oleh anaknya. Dasar.”

Buku ini juga menjadi menarik dengan adanya penggunaan nama Maysa yang 3 kali muncul dalam 3 cerita yang berbeda : Istri yang menyeleweng dalam kisah New Year’s Eve, Istri yang curiga akan penyelewengan suami dalam kisah Mbak Nani 854326, dan Istri dari tokoh penerima hadiah pernikahan mereka dalam Hadiah Kupu-Kupu dalam Kotak Kaca. Siapakah Maysa ini? Adakah ia yang dekat dengan hati sang Penulis.

Membaca Perempuan yang Mencintai Still Got The Blues, membawa saya terbang ke alam imajinasi kisah-kisah yang berbeda. Kisah yang juga menerbangkan saya ke wilayah Sulawesi, wilyaha yang belum pernah dikunjungi. Ada pengenalan kata dan adat.

Sayangnya, buku ini tidak menampilkan sebuah kata pengantar. Setidaknya ada sepatah dua kata mengenai pembuatan buku ini. Siapa tahu perkiraan-perkiraan saya di atas dapat dijawab melalui kata pengantar ini.