Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja. Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir. (Pepatah Bugis)

Halaman Depan > Komunitas Ininnawa > Tiba-tiba Aku Amat Curiga Kau Sedang Bersiasat Menyusun Sejumlah (...)

Tiba-tiba Aku Amat Curiga Kau Sedang Bersiasat Menyusun Sejumlah Tiba-tiba

Kamis 8 Maret 2007, oleh admin

Hasan Aspahani, penyair dan pimpinan redaksi puisi.net, menuliskan sebuah resensi yang disebutnya sebagai puisi resensi puisi. Resensi ini dibuat setelah membaca buku Hujan Rintih-rintih karya M Aan Mansyur. Buku ini adalah salah satu dari seri buku sastra yang diterbitkan oleh Penerbit Ininnawa.

Judul: Hujan Rintih-tintih
Penulis: M Aan Mansyur
Penerbit: Ininnawa, Makassar
Cetakan Pertama, Januari 2005

AKU sedang dan selalu menunggu di rumah bersalin puisi, tempat yang cemas dan nyaman menunggu harapan—rumah sakit yang kubangun lama dengan cinta, dengan rindu—ketika sebuah buku datang, mengandung 45 puisi, dan setelah itu aku harus segera ke kantor catatan sipil membuat akte kelahiran, di mataku lahirlah engkau: Penyair M Aan Mansyur. Kelahiran yang sebenarnya telah lama diramalkan. Aku seperti mengikutinya sejak datang bulan terakhir perempuan yang mengandungnya.

SEBUAH buku datang, membawa 45 puisimu. Aku percaya kau telah mengandungnya cukup bulan. Kau adalah penyetubuh yang jantan. Kau punya sperma kata-kata yang sehat dan lincah gerak.

Jika tidak, bagaimanakah bisa kau peranakkan:

kecemasan sebagai hujan rintih-rintih

cuaca selalu datang sepanas pemilu sejak subuh

gerimis tumbuh menderas,
kami tersesat di hutan-hutan hujan
mencari ’tidak’, entah sampai kapan.

seorang yang tak melihat di bawah cahaya,
akan membunuh segala yang silau.

PENYAIR itu, Aan, adalah dia yang tak nyaman hanya melihat usaran arus di muara. Ia adalah orang

PENYAIR itu, Aan, adalah dia yang membuat panggung dari puisinya lalu di panggung itu kalimat-kalimat menari, kata-kata riang berbunyi, bahkan kata yang tak paling pemalu pun tergoda untuk ikut - setidaknya mengetukkan kaki.

PENYAIR itu, Aan, adalah dia yang tak pernah melepaskan badik dari tangan. Badik itu adalah puisi. Badik itu adalah tongkat sihir yang mengubah setiap apa yang ia tikam berubah menjadi puisi, badik itu adalah tongkat komando yang dipatuhi oleh apa pun yang ia tuding dengan perintah. Badik itu juga adalah setangkai mawar yang meluluhkan hati apa pun yang ia rayu cukup dengan sebuah sodoran lembut, bahkan juga meluluhkan hatinya sendiri. Badik itu pula yang ia tikamkan tepat ke pusat jantungnya sendiri. Lalu ia berkata, "beginilah aku memelihara tajamnya..."

PUISIMU, Aan akhirnya di tangan pembaca yang gatal bermain, menjelma bagai plastisin. Ia bisa dibentuk jadi apa saja. Ia menawarkan permainan yang riang. Aku membayangkan sebuah bis pariwisata. Pemandu tur yang jenaka.

bis tiba-tiba berhenti,
tetapi ketika kau ingin turun tiba-tiba berjalan kembali
dan kau harus duduk lagi melanjutkan mengunyah bubblegum

siapa yang mengirim begitu banyak tiba-tiba pada
perjalanan ini, .....

AKU suka tiba-tibamu, tiba-tiba saja. Kelak di buku-buku sajakmu berikutnya, kirimilah aku tiba-tiba sebanyak-banyaknya. Ya, tiba-tiba saja, aku semakin curiga, kau sedang bersiasat menyusun sekian banyak tiba-tiba.

Resensi buku ini juga bisa dibaca di www.sejuta-puisi.blogspot.com.