Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja. Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir. (Pepatah Bugis)

Halaman Depan > Komunitas Ininnawa > Buku-buku Terbitan Penerbit Ininnawa

Buku-buku Terbitan Penerbit Ininnawa

Senin 5 Maret 2007, oleh admin

Jelajah cepat

Makassar Nol Kilometer, p1
Sajak dengan Huruf Tak Cukup, p1
Hujan Rintih-rintih, p1
Tapak-tapak Waktu: Kebudayaan, Sejarah, dan Kehidupan Sosial di Sulawesi Selatan, p1
Tragedi Minamata, p1
Keterbelakangan dan Ketergantungan: Teori Pembangunan di Indonesia, p1
Kupu-kupu dalam Kotak Kaca, p1
Perempuan yang Mencintai Still Got the Blues, p1
Kepingan Mozaik Sejarah Budaya Sulawesi Selatan, p1

Sejak berdirinya tahun 2004 lalu, Penerbit Ininnawa telah menerbitkan beberapa judul. Penjelasan singkat tentang buku-buku tersebut dapat dibaca dalam katalog berikut ini.

Makassar Nol Kilometer

Makassar Nol Kilometer Media Kajian Sulawesi (MKS) & Penerbit Ininnawa Anwar J Rachman, M Aan mansyur & Nurhady Sirimorok (Editor) Oktober 2005 375 halaman Rp45.000,-

Kota adalah sebuah wujud kejujuran modernitas. Di dalamnya terdapat timpah-menimpah antara tabiat modal yang buta-ruang, siasat terhadap ruang yang ada agar modal tetap langgeng, dan cara masyarakatnya menghadapi hidup dengan ruang yang terbatas.

Lantaran itulah, Makassar Nol Kilometer lahir. Buku berisi 49 tulisan yang dihasilkan 15 penulis muda, sebagiannya masih mahasiswa, ini memotret fenomena [kejadian yang lambat laun menjadi sesuatu yang rutin] seperti iringan mayat atau perang antar-kelompok, komunitas [kelompok masyarakat di Makassar yang memiliki sifat khusus] seperti waria di Lapangan Karebosi sampai suporter PSM, ruang [penanda kota atau ruang publik] seperti Lapangan Karebosi dan Fort Roterdam, dan kuliner [jajanan yang biasa ditawarkan di Makassar] seperti Coto atau Sarabba.

Buku pertama yang memotret warga Kota Makassar kontemporer lengkap dengan karnaval budayanya, seperti merayakannya di alun-alun; di titik nol kilometer. Sebuah buku untuk mereka yang ingin tahu budaya-pop Makassar dan sekitarnya.

Sajak dengan Huruf Tak Cukup

Sajak dengan Huruf Tak Cukup Kumpulan Sajak Penyair-penyair Muda Sulawesi Selatan Penerbit Ininnawa Januari 2005 143 halaman Harga Rp17.500,-

Antologi ini memuat 77 sajak yang dikumpulkan dari 11 penyair muda Sulawesi Selatan adalah fragmen yang lazim dalam kesusastraan Indonesia. Namun usaha keras seperti yang dilakukan sekelompok anak muda yang suka berdiskusi dan menulis sajak itu, telah terbukti sepuluh tahun terakhir, terbukti ikut menentukan nasib kesusastraan Indonesia.

Dengan begitu, dalam pengantar yang ditulis oleh Aslan Abidin, tiap generasi berpeluang menjadi bandul penting yang menggerakkan zamannya. Seperti yang telah dilakukan para penyair muda ini, setidaknya menegaskan bahwa mereka telah mengguratkan sesuatu pada masyarakatnya. Mereka mungkin akan lebih bersikeras lagi, dan akan lebih mempesona lagi.

Hujan Rintih-rintih

Hujan Rintih-rintih Antologi Puisi M Aan Mansyur Penerbit Ininnawa Januari 2005 65 halaman Harga Rp15.000,-

Buku bersampul biru ini memuat 44 sajak penyair M Aan Mansyur. Sebagian besar puisi di dalam buku ini adalah puisi pendek, yang mengingatkan kita pada kuatrin-kuatrin penyair-penyair Jepang.

M Aan Mansyur adalah salah satu penyair muda Sulawesi Selatan yang menonjol. Karya-karya penyair kelahiran Bone 14 Januari 1979 ini pernah terpublikasi dalam beberapa antologi seperti Dian Sastro for President #2, Sajak dengan Huruf Tak Cukup, Kupu-kupu dalam Kotak Kaca, dan beberapa antologi komunal lainnya.

Tapak-tapak Waktu: Kebudayaan, Sejarah, dan Kehidupan Sosial di Sulawesi Selatan

Tapak-Tapak Waktu: Kebudayaan, Sejarah, dan Kehidupan Sosial di Sulawesi Selatan Australia Indonesia Institute (AII) & Penerbit Ininnawa Kathryn Robinson & Mukhlis PaEni (Penyunting) Juli 2005 469 halaman Rp40.000,-

Buku ini meluruskan pandangan mengenai manusia-manusia Bugis yang sering dipresentasikan sebagai masyarakat pengelana laut yang kuat, yang dulu terlibat dalam perdagangan budak dan perompakan. Tetapi jika menilik lebih dalam sejarah mereka, ternyata hanya sedikit dari mereka yang terlibat dalam aktivitas maritim dan hampir tidak ada yang jadi perompak.

Justru Christian Pelras menyebut, masyarakat Bugis yang dikenal dengan penganut agama Islam yang taat, serta pedagang sukses yang paling siap menghadapi perubahan yang cepat. Ini dimungkinkan dengan keberadaan beberapa ciri dalam tradisi mereka yang biasanya dianggap sebagai bentuk spesifik modernitas. Ciri itu antara lain: (1) melek huruf, orang Bugis selalu memperlihatkan kecintaan mereka pada tradisi, yang tidak saja dipelihara lewat tradisi lisan, tapi juga tercatat, mungkin sejak abad ke-14, dalam berjilid-jilid naskah tulisan tangan (lontara), yang disimpan banyak keluarga di hampir seluruh desa-desa orang Bugis di Sulawesi Selatan; (2) ekonomi berorientasi pertukaran, mungkin sejak nenek moyang mereka di abad-abad awal milenium pertama. Kita bisa berspekulasi kalau kemakmuran hasil perdagangan inilah yang melahirkan peradaban awal Bugis; (3) individualisme, mobilitas sosial dimungkinkan seseorang, dalam kondisi tertentu, disamakan dengan orang dari lapisan yang lebih tinggi, misalnya melalui prestasi individual sebagai orang berani (to-warani), orang kaya (to-sugi), orang pintar atau bijaksana (to-acca), orang yang religius (to-panrita).

Selain itu, buku ini pun membahas tentang Catatan Kapitan Melayu, Empat Versi Lisan Cerita Leluhur Orang Bajo di Selayar Selatan, Beberapa Catatan tentang Kronik Bone, Sejarah Konstruksi dan Benteng-benteng Pertahanan Makassar, Kronologi Raja-raja Luwu hingga Tahun 1611, Tradisi Membangun Rumah di Sulawesi Selatan, dan pembahasan penting lainnya.

Tragedi Minamata

Tragedi Minamata (Minamata Disease Harada Masazumi Media Kajian Sulawesi (MKS) Januari 2005 Halaman 332 Harga Rp37.500,-

Buku ini seperti peta yang dipenuhi deskripsi mengenaskan tentang korban, tentang kekeraskepalaan pihak pabrik penyebab tragedi itu, rapuhnya ilmu kedokteran dalam memecahkan misteri penyakit Minamata, serta kekebalan dan kelambanan pemerintah dalam menghadapi persoalan masyarakat ini.

Namun di balik itu, buku ini juga berisi harapan, tekad, dan perlawanan para korban dan simpatisan, termasuk penulis buku ini, untuk memberi sedikit oase bagi penderita yang sudah terlanjur mengidap penyakit Minamata. Ratusan simpatisan dari kalangan dokter, pengacara, LSM, pers, dan organisasi masyarakat, mereka semua turun ke kancah pertarungan panjang dan melelahkan.

Di sisi lain, buku ini menjelaskan secara gamblang asal-usul terbentuknya definisi ‘Penyakit Minamata’ dan rumitnya konteks yang melatarinya. Sehingga, jika menariknya ke wilayah Indonesia berbagai spekulasi tentang pencemaran merkuri, penyakit yang diakibatkannya, dan proses perjangkitannya, dapat terurai dengan jelas. Sekaligus, membawa kita melakukan perbandingan tentang pihak-pihak mana saja yang biasanya mendukung atau menghambat usaha penuntutan hukum terhadap mereka yang dianggap bertanggungjawab, dan usaha rehabilitasi untuk para korban.

Menjadi catatan penting adalah buku ini, sejak terbit 1972 dalam edisi Bahasa Jepang, telah mengalami cetak ulang sebanyak 37 kali, dan diterjemahkan ke dalama berbagai bahasa di dunia.

Keterbelakangan dan Ketergantungan: Teori Pembangunan di Indonesia

Keterbelakangan dan Ketergantungan: Teori Pembangunan di Indonesia, Malaysia, dan Thailand Deddy T Tikson Ph.D Penerbit Ininnawa 176 halaman Agustus 2005 Harga Rp30.000,-

Kebijakan dan strategi pembangunan di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Amerika Latin, menganut Teori Modernisasi. Di negara-negara ini, bantuan luar negeri (hutang luar negeri dan PMA) menjadi mesin utama pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, sesuai dengan teori modernisasi. Namun penerapan teori modernisasi di tiga negara kasus menghasilkan kinerja pembangunan yang berbeda. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Hal inilah yang coba dijawab Deddy Tikson (DT) dalam buku setebal 176 halaman ini.

Kasus ini juga disajikan DT agar pembaca dapat melihat operasionalisasi teori pembangunan (khususnya teori ketergantungan) dalam praktek pembangunan di tiga negara tersebut. Di samping itu, dapat pula dilihat teknik dan prosedur yang digunakan untuk menganalisis fenomena pembangunan di negara-negara berkembang. Dengan melakukan ini, analisis tentang teori pembangunan diharapkan menjadi lebih luas. Selain mendiskusikan konsep-konsep dan teori, secara empiris dapat pula dilihat implementasi dan hasil-hasilnya di tiga negara tersebut.

Kupu-kupu dalam Kotak Kaca

Kupu-kupu dalam Kotak Kaca Kumpulan Cerpen Penulis Muda Sulawesi Selatan Penerbit Ininnawa Januari 2005 168 halaman Rp20.000,-

Buku ini memuat cerita-cerita pendek dari 9 (sembilan) penulis muda Sulawesi Selatan. Dalam pengantar buku ini, Muhary Wahyu Nurba menyebut, kehadiran buku ini menjadi penting mengingat langkanya penerbitan buku seperti ini. Hal ini sekaligus memperlihatkan jumlah penulis cerpen yang sangat minim dari sekian banyak penulis sastra yang pernah lahir di Sulawesi Selatan.

Bahkan untuk sementara waktu, masih sulit menyebut siapa cerpenis Sulsel. Beberapa nama bisa disebutkan seperti: Sinansari Ecip, Muspa Edow, Aspar Paturusi, di panggung kesusastraan Indonesia lebih dikenal sebagai penulis yang telah menerbitkan roman meski mereka pun masing-masing penulis kritik, menggeluti teater dan menulis sajak. Hal ini sekaligus menjadi sinyal bahwa kesempatan untuk mencatatkan diri dalam sejarah kesusastraan khususnya cerpen masih sangat terbuka.

Dari sini, entah mengapa saya pun mulai mereka-reka, boleh jadi dengan kehadiran mereka, ini menjadi pertanda gejala awal munculnya angkatan penulis cerpen dalam dunia kesusastraan Indonesia di Sulawesi Selatan, begitu kata Muhary.

Perempuan yang Mencintai Still Got the Blues

Perempuan yang Mencintai Still Got the Blues Kumpulan Cerita Pendek Rahmat Hidayat Penerbit Ininnawa & Penerbit Kampus Identitas Juni 2005 222 halaman Harga Rp25.000,-

Buku ini berisi 20 cerita pendek Rahmat Hidayat (RH), cerpenis berbakat Makassar. Penulis kelahiran Bone 29 tahun silam ini banyak menceritakan perempuan yang dipojokkan oleh nasib buruk. Pengalirannya mengalir deras dengan kalimat-kalimat yang mampu memunculkan imagery yang terang. Dialog-dialognya, kata Ketua Masyarakat Sastra Tamalanrea (MST) Aslan Abidin, bukan hanya jadi ‘narasi’ yang mengalirkan alur cerita, tapi juga merupakan cara efektif dalam menyampaikan karakter tokoh, dan terpenting; menjadi pemicu untuk membuat sentakan ending yang mengejutkan. Kekuatan inilah tampaknya yang diandalkan oleh penulis yang tengah merampungkan studi dokter mudanya di RS Wahidin Sudirohusodo Makassar ini. Menurut Hendragunawan S Thayf, kekuatan RH terletak pada penyelesaian yang kuat dan memikat. Juga pada penguasaan teknik pengisahan, sesuatu yang kadang terabaikan oleh cerpenis muda kontemporer yang terlalu larut dalam lirisme suasana dan retorisme yang besar.

Kepingan Mozaik Sejarah Budaya Sulawesi Selatan

Kepingan Mozaik Sejarah Budaya Sulawesi Selatan Iwan Sumantri (ed.) Bagian Proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan & Penerbit Ininnawa Oktober 2004 452 halaman Rp27.000,-

Sulawesi Selatan beruntung memiliki bukti-bukti yang cukup jelas untuk membedakan antara komunitas yang sederhana dengan komunitas yang lebih kompleks. Perbedaan-perbedaan wujud produk budaya antara satu fase kesejarahan dengan fase kesejarahan lainnya merupakan kepingan mozaik dari sejarah budaya Sulawesi Selatan.

Buku ini memiliki kelebihan tersendiri, yaitu kemampuannya mempelajari proses-proses perubahan yang terjadi selama beribu-ribu tahun. Mulai dari Kajian Pola Pemukiman Gua Pra-Sejarah, Arkeologi Islam, Penempatan Benteng-Benteng Gowa-Tallo Abad ke-17, Pelayaran Keramik, Tinggalan Bangunan Kolonial, hingga Budaya Etnis Tionghoa di Makassar.
Semua koleksi ini dapat anda pesan via telepon/SMS ke: 081.342.398.338 [jimpe] atau via surat-e ke: penerbitininnawa@yahoo.com